Ummul Mukminin ; The Very First Sight

Dear Pondok Pesantren Puteri Ummul Mukminin

Kesempatan mungkin tak selamanya ditunggu. Bisa dicari sekaligus dibuat. Hal  yang sangat memungkinkan, namun ga bakal terwujud  tanpa kehendak Allah SWT.  Di kesempatan kali ini, saya benar-benar  ingin mengenang atau lebih tepatnya menulis kenangan tentang  sebuah pondok bersejarah bernama Ummul Mukminin. Nama yang ga bisa dan ga bakal kulupa sampai akhir hayatku.  Pondok tempatku bernaung selama enam tahun  usai menyelesaikan pendidikan di SDN IKIP I Makassar.  Yang mereka sebut sekolah namun bagiku lebih kental dengan  suasana pondoknya. Mengikat dan meninggalkan bekas.

Ya, Ummul Mukminin adalah salah satu pesantren yang dinaungi organisasi Muhammadiyah. Bisa dibilang, ayahnya itu Muhammadiyah dan ibunya adalah Aisyiyah. Subhanallah. Arti Ummul Mukminin saja bisa melahirkan optimisme besar bagi sebagian besar orang tua yang menitipkan anaknya di sana. “Ibu Orang-orang Mukmin”. Tentunya, secara garis besar, santriwati Ummul Mukminin, sejatinya dapat meneladani kisah para Ummul Mukminin, atau paling tidak menjadi the real Ummul Mukminin, Ibu orang-orang yang beriman.

Menulis tentang Ummul Mukminin juga akan menimbulkan banyak pertanyaan, seperti bagaimana sebenarnya sejarah awal berdirinya pesantren yang satu ini. Well, honestly saya belum menciptakan kesempatan untuk interview secara mendalam mengenai itu. Padahal kalau dipikir-pikir, kenapa waktu enam tahun itu ga digunakan untuk mencari tahu lebih dalam mengenai sekolahnya sendiri LOL.

Secara umumnya aja ya. As we know, UM berdiri di atas tanah wakaf Hj. Athirah , Ibunda Jusuf Kalla. Saat itu tepatnya tahun 1965, Almarhumah aktif menjadi pengurus Tabligh Aisyiyah Cabang Makassar. Dari yang saya temukan dalam Media Kalla edisi Januari-Maret 2012, tanah wakaf tersebut merupakan sumbangan yang paling berkesan. Luas tanahnya kurang lebih dua hektar. Masjid Ummul Mukminin pun diberi nama Masjid Athirah.

Saya pun teringat masa-masa sebelum pemilihan presiden, kalau ga salah. Pasangan SBY dan JK menyempatkan untuk mengunjungi Pondok Ummul. Wah, warga sekitar sampai berebutan masuk pesantren. Berlomba-lomba salaman dengan SBY yang akhirnya menjadi orang nomor 1 di Indonesia hhe. Yang lucu saat itu adalah sebagian besar warga pesantren milihnya capres Amien Rais, ketua MPR ke-10. Hahaaaa. Setiap SBY meneriakkan kata-kata andalannya, santri sontak menyambung kata Amin-yang diucapkan SBY di setiap akhir kalimat-dengan Rais :)

Kembali ke cerita kenangan, saya tercatat sebagai angkatan ke-16 , atau masuk pada tahun 2008. Perkenalan saya sebenarnya begitu singkat dengan Si Ummul Mukminin ini. Sejak SD, you know, sebelum Alm. Yahya meninggal dunia dan mondok di Gontor, saya mendengar kabar dari Ibu dan Bapak yang berencana untuk mendaftarkan saya di pondok khusus puterinya. Mungkin Gontor versi puteri-nya lah, daerahnya kalau ga salah namanya Ngawi. Selain itu  Bapak saya ternyata mengenal Si Ummul Mukminin ini dari kerabatnya di IAIN, sekaligus menemukan ada relasi bernama ibu Marham. Nah kena deh antara dua pilihan itu. Pokoknya saya ga tahu detailnya, setelah kepergian almarhum,  tekad orang tua sudah bulat memasukkan saya di UM.

Akhirnya Bapak mengajak saya, pergi untuk sekadar melihat suasana UM itu. Dengan dress pink yang unyu-unyu, tanpa mengenakan jilbab, berangkatlah saya bersama Bapak. Tiba di sana, wah seketika saya kok jadi gimana gitu. Sekelompok gadis berbusana muslim duduk-duduk santai di bawah pohon mangga yang gede  dan rindang banget. Cukup sepi sih. Intinya dulu pohon mangga yang besar banyaaaakkk buanget. Ada kesan seram sedikit buat saya,hhe. Saat itu ternyata Bapak langsung mengunjungi rumah salah satu ustad yang juga kenalannya sewaktu kuliah. Namanya Ust. Mustari. Ustad ini lucu dan baik loh. Udah seperti bapak kita lah.

Nah, setelah puas melihat-lihat daerah UM, Bapak lalu membawa saya ke another pondok, -yang beberapa minggu kemudian saya tahu bernama Darul Aman- wah, di sana asli, lebih berasa pondokannya loh. Bangunannya kebanyakan terbuat dari kayu. Mandi aja di sumur, rame-rame. Terus kalau saya ga salah ingat, kasurnya baru dibuka saat mau tidur aja. Pesantren Darul Aman Puteri itu juga termasuk pesantren Muhammadiyah. Sama dengan Darul Arqam atau yang lebih dikenal dengan nama Gombara.  Kedua pesantren ini, di mata saya cukup  orisinil. Taste ke-santriannya  berasa. Bahasa Arab-Inggris juga jadi kebiasaan, sama seperti di UM (tapi sekarang aku ga begitu tahu banyak ya ;p).  Tentunya selain itu, keduanya juga sama-sama lengket dengan unsur Muhammadiyah. Just so you know, Anis Matta dan Shamsi Ali itu keluaran Gombara loh hhe. Kalau dari Ummul siapa ya? Wah banyak lah yang Alhamdulillah menjadi The Real Ummul Mukminin. Mudah-mudahan kita semua nyusul. Persiapkan diri ya haha.

Jadilah saat itu saya ikut tes pertama di Ummul Mukminin. Suasananya awkward banget. Secara Bapak yang mengantar tidak bisa menemani dari awal sampai akhir tes. Pulangnya aja saya dijemput. Beda loh sama anak-anak yang lain. Mereka tes bareng kenalan, bawa satu kompi keluarga pula. Jadi pas rehat gitu, mereka ceria banget nangkring bareng keluarga. Uhuk-uhuk jadi pengen nangis liatinnya.

Tes yang paling mengesankan itu tes wawancara. Saya ingat banget yang mewawancarai saya itu Ibu Qamariah, salah satu legend UM J.  Begini kira-kira percakapannya.

Ibu Qomariah   : Masuk pesantren ini atas kemauan sendiri atau orang tua?

Saya                  : Saya sendiri Bu.

Ibu Qomariah   : Betul ji itu? Tidak dipaksa ji?

Saya                  : Iye Bu. (Dalam hati “Sebenarnya Orang Tua yang mau Bu. Saya mah terima-terima aja. Saya masih buta masalah begituan. Ikut-ikut ja saja. Haha”)

Begitulah kira-kira dan selanjutnya adalah masa-masa nervous yang saya rasakan sepulangnya dari UM. Pasalnya, UM is the only one i got man. Kebayang ga sih dumbatnya. Saya sering curhat ke Bapak. ‘Aduh lulusja itu’? Nah Bapaknya santai-santai kayak di pantai.  Finally, Yay. Alhamdulillah lulus juga.

Dan ternyata, di pesantren itu berasa banget suka dukanya bagi saya. Kita semacam ditempa, pokoknya. Over  all. Sukanya lebih banyak bagi saya sih tergantung dari bagaimana kita mensyukuri hidup. Kegembiraan yang dijalin bersama saudariku. Saudari se-kamar, se-asrama, se-kelas, dan se-angkatan. Belum lagi saudari dari adik kelas maupun kakak kelas. Sungguh anugerah terindah yang pernah kumiliki.

Ceritanya pas masuk UM, asrama udah ditentukan masing-masing. Gotcha! Nurul Fajriyah H dapat kamar 2 asrama 1. Hmm not bad, I thought. Posisi kamarnya pas di depan kamar Ibu Asrama, Ibu Hawaidah. Saat itu saya pikir strategis banget. Lama kelamaan baru ketahuan kalau kamar yang berhadapan dengan kamar Ibu Asrama paling miserable. Pasalnya kalau ribut, cekikikan dikit aja bakal ketahuan, dan dapat bonus dari beliau haha. Jadi mau blak-balakan salah, mau cekikikan salah, serba salah deh.

Masuk di kamar, aneh banget. Asli. Wajah-wajah baru yang ga pernah saya temui sebelumnya. Mari saya perkenalkan dengan segenap teman kamar saya yang aneh bin ajaib.

Pertama ada yang namanya Nurul Inayah Mawardi. Saat itu saya menilai anak yang satu ini cukup mandiri. Gesit, ga shy shy cat kayak saya. Hampir semua barangnya dia yang handle. Belakangan saya tahu ternyata dia punya kakak juga di Ummul, jiaaaah Nayaaa Nayaaa . FYI, cewek mungil manis itu akrab disapa Naya. Menyelesaikan SD nya di salah satu SD di BTP, FYI lagi, banyak juga teman SD nya yang mondok di UM. Selain itu Naya asalnya dari Sinjai, and she’s proud of it. Naya sering bercerita mengenai Sinjai, sampai lagu daerahnya kita bisa hapal karena Naya :D

Lalu ada Mustika Widyastuti. Yang satu ini agak manja sih. Ibu Bapaknya ga pernah luput dari sisinya. Orangnya kurus, berkacamata. Mustika yang akrab disapa Ika ini berdarah Jawa alias Wong Jowo. Ga jarang, Ibu dan Bapaknya ngemeng-ngemeng pake Bahasa Jawa. Next ada tiga sekawan yang selalu terlihat bersama, lengket satu sama laindi hari pertama. Pertama Zul Iffah Alkatsury, Nur Muthmainnah Halim dan Ainun Marfuah.  Cek per cek, Si Iffah dan Nunung (Nur Muthmainnah) itu tetanggaan di Minasa Upa, sebutan gaulnya, anak MU. Kemudian Si Ainun dan Iffah itu semasa SD sama-sama sekolah di SD Islam Athirah.

Selanjutnya ada siapa lagi ya. Oh ya ada Dua sekawan juga dari Enrekang, which is kampung saya juga loh. Namanya Magfirah dan Fitrayana. Magfirah alias Ira cukup PD loh. Suka berdakwah dan nyanyi haha. Ternyata Fitrayana itu adalah sepupunya. Mereka sama-sama jago main volly cinn. Bisa dibilang mereka expert saat itu LOL.

Ada lagi nih dua sekawan lainnya, dari Kendari. Nur Fitrah Qalbu dan Desi Yuniar Ningsih Darfid. Nur Fitrah, yang manis itu pembawaannya ceria. Desi orangnya gimana yaa, hmm kalau ketawa lucu dengan aksen khasnya. Kampung halaman Desi namanya Raha kalau ga salah ingat :).

Nah selanjutnya ada Oshin alias Siti Nur Fadliyana. Cewek bermata indah ini ternyata seorang diva loh. Suaranya wow banget. Masa-masa ospek dia sering diminta nyanyi sama kakak-kakak kelas. Beda dengan saya dan beberapa anak cupu lainnya yang paling sering disuruh macam-macam demi mendapatkan TTD kuakak kelas jaman itu. EDAN BENAR. LOL

Next ada Rosmiati Ruslan. Teman yang satu ini saya udah lupa ciri-cirinya. Wajar sih karena ga cukup beberapa lama dia udah move dari UM. Kalau ga salah digantiin Nur Sabah Laitupa, teman kecil dari Ambon. Manis, lucu  buanget dan punya kakak juga di Ummul. Namanya Kak Salma. Semuanya udah genap 11 kan. Nah, keberadaan saya di sana menggenapkan anggota kamar 2 asrama 1. Nurul Fajriyah Hading, gimana ya kesan pertamanya. Haha, tanya aja sama teman-teman kamar saya.

Intinya suasana yang saya rasakan masa-masa pertama di UM tak bisa dilupakan. Maklum, anak-anak baru yang ga tahu apa-apa bakal berpikir macam-macam tentang asrama dan segala peraturan. Asrama 1 yang berada di paling ujung, samping lapangan menurut saya cukup mengerikan saat itu. Banyak pohon mangga besar di samping kiri (dari depan). Kita selaku anak-anak baru juga kadang sok menciptakan beberapa isu tentang hantu lah dan sebagainya. Huh banyak kejadian misterius deh pokoknya saat u. Yang paling saya ingat adalah kejadian tengah malam. Suara teriakan dari kamar 5. Asli, dalam hitungan detik semua santri berlarian menuju koridor. Lucunya, saking ketakutan, anak yang ranjangnya di atas sampai loncat ke bawah tanpa tangga loh. Hebat ya kita. Beberapa sumber mengatakan, malam itu di samping kamar 5 ada tangan yang menjulur masuk, mengerikan tanganyaa, mirip monster apaaa gitu. Hmm, sudah mi deh. Malaska ingatki. Yang paling lucumi itu saat anak-anak di ranjang atas langsung melompat ke bawah dan tidak ingat lagi sama tangga. Padahala termasuk tinggi itu jaraknya gang ranjang atas ke lantai :D

Masa-masa awkward  di tahun pertama juga diwarnai dengan banyaknya peraturan. Semua peraturan sudah berlaku bahkan untuk anak baru sekalipun, atau kelas 1. Berbahasa Inggris dan Arab, Ber-attitude. Dua penantian yang mengerikan adalah kismu lugah dan kismu amni. Jadi bagi yang ga berbahasa bakal diadili di mahkamah lugah. Kismu amni sendiri menangani santri yang pakaiannya ga wajar, makan tangan kiri, makan minum berdiri, atau hal-hal lainnya yang menyangkut etika. Saya ingat sekali bagaimana saya pertama kali melanggar. Pertama masuk, kudung shalat saya transparan. Dan di tengah kerumunan santri yang tengah menuju asrama, saya dipanggil salah seorang teman. Katanya saya dipanggil oleh kaka IRM (Sekarang IPM). Saya sontak kaget dan dumbat. Wah, ada apa gerangan saya dipanggil. Tapi panggilan itu saya hiraukan. Pas sampai di kamar, sepupunya Iffah, kak Muti pun bilang kalau saya tuh masuk kismu amni karena kudung shalat yang transparan. Sumpah, saya takut banget saat itu. Keluar pun enggan. Saya pikir kalau ga keluar,ga bakal di gap.

Kebayang ga sih, baru jadi santri baru sudah dianugerahi peraturan yang ketat kayak gitu. Belum lagi peraturan berbahasa, terus ada istilah jasus atau mata-mata. Ceritanya mereka yang diberikan tugas menjadi jasus harus mencatat teman yang ga berbahasa. Beuh, teman seangkatan saat itu banyak yang jadi jasus men. Pas keluar main, sedang bercanda ria dengan teman kamar, tiba-tiba ada seekor cewek yang nyamperin. Kenal juga enggak, eh langsung nanya-nanya nama gue. “Siapa namanu?” kata dia seperti polisi yang lagi menilang orang. Saya kan jadi bengong, untung saya aware, jadi curiga nih orang kok tanya2 nama. Hmm, pasti mau nyatet saya nih. Alhasil, saya pura-pura o’on (o’on memang ji na) dan berlalu, pergi menjauh. Dia pun terlihat ga puas. Sampai bertanya ke sekitar, mencari tahu nama saya siapa. Asli, serasa jadi buronan dengan adanya jasus men. Hidup ga tenang, haha. Mau gosip harus berbahasa pula. Beberapa santri sempat berpikir kalau jadi jasus itu enak. Pada akhirnya saya juga dapat tugas mulia jadi mata-mata. Gila, sama ga enaknya cuy. Kita harus cari orang bersalah yang sama aja mencari-cari kelasalan orang dalam waktu satu hari. Kalau ga dapet ya kena hukuman. Kebanyakan santri yang ga dapet target malah mencatat teman sekamarnya sendiri. Gila, edan benar haha.

Asrama 3

Sama kejadiannya waktu di kelas, teman saya mengajak berbicara pake Bahasa Indonesia. Picik benar tuh jasus,, memancing kita untuk berbahasa Indonesia, terus kitanya dicatet deh. Lalu terjadilah aksi balas membalas, dendam kesumat, dendam jumat kliwon dan pertumpahan darah (nyamuk). Yang palinggila adalah ketika saya sedang jadi jasus, dan mencatat teman saya bernama Syamsinar. Syamsinar ini orangnya unik banget, cerewet dan gokil. Siang itu, di kelas, dia ga berbahasa dan saya mencatat namanya.Di ruang kismu lugha, yang sialnya saya kembali melanggar dan masuk mahkamah, Syamsinar ditertawai habis-habisan oleh kakak kelas. Begini kira-kira catatannya ketika jadi jasus.

Nama : Syamsinar

Kelas :  1B

Pembicaraan : Hush hush pergiko, mauko juga belajar kah?

Teman bicara : Bebek.

Saksi : (saya udah lupa yang jadi saksinya siapa)

 

Saya yang saat itu juga dihakimi, hanya bisa tersenyum dalam tundukku. Nah kalau-kalau Syamsinar  bakal ataupun sudah baca tulisan ini, Saya Nurul Fajriyah Hading mohon maaf yang sebesar-besarnya ya. Kamu maklumlah dulu kita sesama junior saling membantai satu sama lain ahahahaha.

Nah. Yang ini suasana ruang makan alias dapur alias kitchen alias matbah :)

 

Gambar di atas adalah kegiatan makan-memakan di matbah (dapur). Ada bagian dapur dimana para cook (Ibu Dapur) memasak menu-menu istimewa :). Jadi kita tuh santri UM pergi makan harus bawa ompreng loh. Lu tau kan ompreng wujudnya gimana. So, itu udah resmi jadi properti kita kalau mau tetap hidup di sana haha. Yang paling berkesan waktu jadi santri baru dulu adalah menu pagi yaitu oseng-oseng. Wah asli, oseng-oseng murni tanpa pemanis buatan. Tapi karena angkatan saya adalah angkatan yang paling amazing, jadi gada yang salah tuh mengenai menu. Bahkan, kami sangat menikmati masa-masa itu.

Selanjutnya mari kita berbagi kenangan dalam gambar yang akan membangkitkan kerinduan akan ma’had tercinta :) Check this one out !

Ciye yang jadi artis di muhadarah akbar (sepertinya)

 

 

Ini sudah mulai jaman-jaman modern (sepertinya)

 

(sepertinya) kita kembali ke masa-masa itu :)

 

NAH !

 

Tiada Waktu Tanpa Olahraga ;p

 

Ini Di-setting. Trust Me :)

 

Upacara Antah Berantah

 

Kalau luang, jolok mangga, nge-rujak cuy. Slrruuppp

 

 

 

 

 

4 thoughts on “Ummul Mukminin ; The Very First Sight

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s