Yokoso April

ImageDetik-detik menjelang pergantian bulan kerap diwarnai dengan postingan status manusia di berbagai jejaring sosial. Ada yang posting welcome April,be nice please dan sebagainya. Bukan hanya April, di bulan-bulan sebelumnya juga begitu. Mereka sepertinya ingin menyapa kedatangan bulan baru dengan hangat, sambil senyum jika mereka bisa bertatapan langsung dengan bulan itu,lol.

Saya, Nurul, Pribadi sangat-sangat tak ingin menghadapi mukamu wahai Bulan April. Tapi meski begitu, kau tetap bulan terindah bagiku. Terima kasih telah menyempatkan Ibuku yang tercinta untuk melahirkan aku di Bulan April. Tepatnya tanggal 14 di waktu Fajar menyingsing. Well, Ibu, apa tangisanku memilukanmu? Kepalan tanganku tentu besar, sebesar beban yang harus kupikul di dunia, sama seperti semua bayi yang dilahirkan. Jika hari ini aku bisa mendengar tangisanku, tentu aku akan sangat-sangat sedih, mengingat saat ini aku sedang dihadapkan dengan banyak ujian yang telah kusepakati dengan Tuhan.

Seberat apapun, kata Ibuku, masih ada yang lebih berat dibandingkan kamu nak, kata Ibuku di sela-sela nasihatnya. Ibu, bukannya aku tak percaya dengan nasihat. Tapi,setiap manusia menyesuaikan kemampuan dengan situasinya. Misalnya seorang yang biasa, ingin hidup yang biasa saja, tentu tak minta yang luar biasa. Dan akan menghadapi hal-hal yang biasa-biasa saja. Begitu sebaliknya, banyak maunya, banyak ujiannya.

Andaikan aku ada saat aku lahir, akan kutumpahkan sebagian kesepakatan dengan Tuhan, agar saat ini beban pikiran di otakku  bisa berkurang. Astagfirullah. Dari kata-kata itu, sepertinya saya telah berlaku arogan pada Tuhan. kurang bersyukur. Ya, kurang bersyukur. Forgive me Rabb.

Dengan sangat menyesal, aku kembali melihat kalender. Wah, 14 April Nurul Fajriyah akan tercatatat sebagai gadis berumur 22 tahun. Cukup tua, pikirku. Rasanya aku ingin berlari ke umur 6 tahun, dimana aku baru menginjakkan kaki di sekolah dasar pertamaku, SDN Komp. IKIP I. Saat itu, tak banyak yang aku pikirkan. Hanya terfokus pada bagaimana mendapatkan kebahagiaan melalui teman-teman yang baik dan keren serta nilai yang cukup bagus.

Pada kenyataannya, aku merasa baru benar-benar memikirkan semua ini saat umur menjelang 20an. Sungguh suatu keterbelakangan yang parah cyyn. Saya pernah baca suatu buku yang menyatakan, kedewasaan seseorang dipengaruhi pada banyaknya konsumsi bacaan atau wawasan. Artinya, saya memang kurang baca dan eksplor diri waktu muda. Sehingga, saat ini, baru ada sedikit penyesalan dan ingin segera re-start. (Lo kira ini semacam game?)

Tapi kembali lagi pada hakikat manusia yang beriman. Saya harus mensyukuri apa yang saya daparkan saat ini. Banyak senyuman yang terukir jika mengingat memori masa lalu. Kecupuanku di waktu SD. Saat kelas 4 sempat dihukum untuk naik di atas meja, memegang tas dalmatianku di depan kelas karena salah membawa buku. Padahal saya tidak tergolong anak nakal, kenapa hukuman memalukan itu diterapkan kepadaku? Kenapa ha? Saya ingat sekali saya masuk lima besar tapi kenapa saya kau hukum Pak Guru? Kenapa? Jawab Aku!!. Tapi terlambat untuk memprotesnya. Pak Guru itu mungkin, entah dimana, menyesali perbuatannya saat itu.

Masa TK juga tak kalah seru. Saat-saat dimana ayah saya kerap terlambat untuk menjemput. Bahkan kadang lupa sama sekali. Masa-masa saya harus pusing memikirkan bekal apa yang akan saya bawa untuk esok hari, lusa, dan keesokan harinya lagi. Aggrrghhh. Seingat saya, di waktu SD, saya terjebak dalam pemikiran anak-anak borjuis saat itu. Saya, yang biasa-biasa aja malah ikut terkubur bersama anak malang yang lain.

Kasihan saya, kasihan. Hina sekali saya. Kata Raditya Dika. Tamat SD saya sudah punya gambaran bakal masuk pondok pesantren. Toh, orang tua saya cukup religius. Aroma pesantren sudah tercium dari jarak 50km. Masa SMP, di pesantren saya, juga penuh dengan aliran sesat. Dimana saya terjebak dengan kebiasaan ngefans kakak kelas cewek, karena di sana emang pesantren cewek. Hueekkk, pengen muntah saya haha. Well, gak ada negatifnya sih, cuman kita kadang over kalau ngidolain kakak kelas. Sampai ngasih hadiah, makanan lah, sampai harus kikuk kalau ketemu di suatu tempat. Hiii, jijay banget dah.

Tiba masa senior, saya jadi kakak kelas yang cukup diminati saat itu. Huekk. Seperti beberapa teman lainnya. Kita, yang diidolain adek kelas bakal dapet bonus tak terduga. Pokoknya hari ulang tahun ada jadwal tersendiri deh. Haaa jadi ketawa terus kalau ingat masa itu. Saat pulang shalat Isya, bakal ada kejutan di samping ranjang. Entah itu makanan, properti dsb. Enak juga sih, teman-teman juga pada suka. Haha, cerita lucu dan konyol.

Tiba masa kuliah. Memasuki dunia lain. Keluar dari tempurung yang kutinggali selama enam tahun. Beda banget, asli. Cuma disayangkan, saat maba, saya juga menjadi salah satu mahasiswa alay yang gampang didoktrin senior. Sampai-sampai muncul kekaguman dengan senior gaje yang hobi orasi depan maba. Huekkk.

Please deh. Umur saya sudah kepala dua nih. Huhuhu, sedih banget sumpah. Umur-umur itu paling santer pembicaraan kapan nikah dan sarjana. FYI, Sarjana adalah kata yang paling angker saat ini. Please dont ask.

Nyatanya, saya emang kadang mau banget mempersiapkan masa indah itu, tapi di sisi lain harus mempersiapkan diri terlebih dahulu. Mamammmmmaa, saya galau, saya hancur. Bulan April kembali merenggut masa mudaaku. umur 21 mungkin jadi batas antara remaja menuju dewasa. Mau gak mau, saya harus dewasaaaaa….

Ibuku, adalah orang pertama yang selalu menuntut sikap dewasa. Oh Tuhan. Kabulkan permintaan Ibuku. Selamat menjelang 22 Nurul Fajriyah Hading. Kadang, saya berharap dulu orang tua saya memalsukan akte kelahiran. Misalnya saya sebenarnya kelahiran 92 tapi dipalsukan 90 agar cepat masuk sekolah. Tapi itu khayalan doang guys.

Well, actually. Age is just a number. Apa yang telah kita lakukan adalah cerminan dari segalnya. Mari kita buktikan kita adalah orang-orang dewasa yang tetap menikmati dan mensyukuri hidup. Satu lagi, tempat tinggal saya, di Makassar adalah tempat yang sangat-sangat sempit. Itu juga diakui @pandji di buku Nasionalismenya. Teman saya kenal ini. Kenalan saya kenal ini, Cowok itu kenalannya kenalana saya dan kenal saya melalui kenalan yang dikenalkan kenalannya. What. Huhu, somebody plese take me outta Makassar. At least, you could ask me to live, someday, anywhere but Makassar. LOL Viva @nurulistis Banzai😀

2 thoughts on “Yokoso April

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s