Nobody and Zero to Somebody and Hero

Bersyukurlah atas datangnya malam yang menyelimuti. Melindungi dari kepenatan dan hiruk pikuk manusia yang mengurusi dunia semata. Maaf, bukannya mengklaim sebagian manusia itu berorientasi pada dunia semata. Kamu bahkan saya pribadi, semua orang berpotensi menjadi seperti itu.

Mengapa malam bagi saya adalah spesial dari semua. Malam menyediakan jeda. Menghelas napas panjang ketimbang pagi dan siang yang memburumu dengan segala tuntutan yang kadang tak penting. Namun karena terjebak di antara kerumunan dan hiruk pikuk, kita ikut bertekuk lutut.

Masih ingat dengan tajuk A LULLABY TO RISE AND SHINE. Sebuah tagline yang punya filosofi. Bagiku, alunan nina bobo pastinya disampaikan di malam hari. ketika semuanya berakhir dan kita berdiam sejenak. Baik itu tidur maupun merenung, semuanya jadi lebih baik di malam hari. Sebuah alunan nina bobo, pengantar tidur tentunya bukan sekadar penyesalan atau untung rugi mengenai apa yang terjadi pada diri kita, tapi lebih kepada bagaimana kira me re-set kembali hal-hal jadul yang tidak bermanfaat menjadi sesuatu yang berberkah di keesokan harinya.

Kembali saya mengingat sebuah tajuk, yang sebenarnya pernah saya agungkan. From Zero to Hero. Sebuah kutipan yang awalnya kukarang belaka. Jujur. Demi Tuhan, awalnya saya tak tahu kalau ada buku berjudul Zero to Hero atau beberapa talkshow bertajuk seperti itu. Toh itu menandakan saya lambat bergerak sehingga kurang update. Di sisi lain, anggap saja saya juga cepat tanggap karena pernah melahirkan kutipan semacam itu dari beberapa pemikiran. Pemikiran itu ya tentu saja bermakna seseorang yang menanjak dari lapisan terbawah tanah hingga mencapai dataran. Sebuah julukan bagi mereka yang meraih pencapaian dengan keringat mereka sendiri. Seseorang yang dicap sebagai pahlawan karena perbuatan dan gerakan moralnya menjadi sebuah inspirasi. Yah, begitulah kira-kira.

Kembali pada diriku. Apakah aku ingin digolongkan sebagai Zero to Hero. Seorang pahlawan dari angka nol? Tidak sama sekali. Itu hanya kujadikan sebagai suatu ukuran dalam menapaki hidup ini. Bukannya mencoba atau sok bijaksana. Tapi memang begitu adanya. Saya, seorang yang sangat biasa-biasa saja. Mengalami banyak pengalaman hidup yang serba aneh. Karena saya lahir dari keluarga yang biasa saja, tidak membuat saya secara otomatis mengumpat dari menyesali segalanya. Pernyataan dan berbagai motivasi-motivasi juga gak akan saya jadikan tameng, seperti harus bersyukur dengan segala yang ada atau “buat apa kaya, toh ujung-ujungnya kita semua ke akhirat”.

Sungguh naif jika saya berpikiran seperti itu. Tapi pada kenyataannya, tak jarang perasaan ciut dimunculkan syeitan agar kita merasa malu akan hal yang sangat sepele. Seperti kurang kaya, kurang cantik kurang pintar dan sebagainya. Keluarga saya yang biasa memang menghidupi saya dengan cara yang mungkin biasa saja. Pertumbuhan saya juga tidak secemerlang anak-anak lain yang mungkin,sebelum masuk TK, diikutkan playgroup serta berbagai les musik atau bahasa asing. Tapi sekali lagi tak masalah. Janganlah berpikir akan perbedaan semacam itu. Menurut saya, tak ada kata terlambat bagi siapa saja yang ingin belajar. Ya, banyak yang memahami itu.  Namun mencobanya saja mereka tak mau.

Godaan dunia. Siapa yang bisa menampiknya? Ada juga sebagian orang yang menampiknya. Mungkin mereka betul-betul melepaskan diri dari keramaian dan mengasingkan diri ke sesuatu tempat. Hmm, gak ada tantangan sama saja seperti makan sayur tanpa garam. Tak berkesan sama sekali. Jadi, mungkin lebih tepat kalau semua berusaha sekeras mungkin untuk memanusiakan diri sesuai dengan fitrahnya.

Tapi sekali lagi kenyataannya banyak dari mereka yang enggan memulai. Mungkin kadang, saya melakukan apa yang mereka lakukan. Misalnya, menghindari suatu kebaikan demi kepentingan dunia fatamorgana. Harta, jabatan, pengakuan atas dirinya. Semua, katanya bisa menopang dirinya selama hidup di dunia. Kita semua memang kerap lupa siapa diri kita, siapa dalang dibalik semua ini. Tak bosannya para pemuka agama mengingatkan kita bahwa Tuhan itu ada. Umur itu misteri, dan kematian adalah hal yang paling dekat dengan kita. Meski begitu, semua seakan tak peduli. Dunia akhirat sedang menunggu kita dengan dua jalur pintu. Syurga dan Neraka. Kita, di sini seakan tak peduli. Seakan tak ada dunia selain dunia saat ini.

Mari kita analogikan semuanya seperti manusia yang berada pada momen atau kondisi yang baik-baik saja, seakan tak peduli dengan keadaan di sekitar. Semuanya bak surga dunia. Kemudian dia dihadapkan dengan situasi dimana ia akan drampok kawanan penjahat. Tanpa kata dalam satu kutipan, dia akan memberikan segalanya yang ia miliki, dan melakukan apa saja demi keselamatannya. Itu mungkin gambaran mengenai bagaimana penyesalan nantinya akan dipetik ketika di terlanjur menapaki akhirak kelak. Dengan menakuti-nakuti seperti itu tidak serta merta membuat saya menjadi seorang yang suci dari dosa. Tidak sama sekali. Sebailknya, saya mengajak untukb berusaha mencoba berubah.

Haha. Saya sungguh bukan pujangga yang pandai merangkai kata. Andai pikiran di otakku bisa tersalurkan secara otomatis, dengan bumbu sastra, pasti akan sangat indah hasilnya. Sekali lagi, saya hanya manusia hina dengan otak yang tidak terlalu encer. Namun, layaknya manusia lain yang ingin berusaha, saya coba maknai hidup dengan baik.

Sebenarnya tajuk Zero to Hero, menurut saya mengajarkan kita tentang bagaimana usaha keras berbuah keberhasilan. Keberhasilan bukan hanya harta dan jabatan semata. Namun kebahagiaan karena mampu melepas segala keraguan, ketakutan serta sikap selalu bergantung pada diri kita. Ada yang mengatakan, banyak manusia yang merasa hidupnya baik-baik saja, dan merasa paling beruntung ketika ia dilahirkan dalam keadaan kaya. Well, kadang uang, di dunia memang dibutuhkan  di dunia sebagai alat tukar sebuah benda. Namun bukan uang yang menjadi tujuannya, tapi proses mendapatkannya.

Kita boleh berbangga bisa lahir dari keluarga baik-baik, dan lingkungan yang baik. Dapat pendidikan yang baik dan sebagainya. Namun, jika kita hanya memperalat semua itu sebagai tameng tanpa memperbaiki personal dari dalam, kita akan sama saja seperti sampah di mata orang bijak. Saya kurang yakin mengatakan kata “orang bijak”. Orang bijak itu sendiri juga pada dasarnya hanya manusia biasa. Lets say its God.

Tak akan ada habisnya berbicara from Zero to Hero. Toh kita kadang berpikir, usai ini apa lagi? usai nanti apa lagi? dan kemudian merasa cukup sapai di situ. Toh, umur adalah rahasia Tuhan dan kita tak akan pernah menjamin seperti apa kita nanti dan pintu apa yang bisa kita akses di akhirat nanti.

Dalam agama kita, ada doa yang selalu dianjurkan. Marilah berdoa dan berusaha tanpa pertimbangan yang bersifat duniawiyah. Mari sama-sama berubah sedikit demi sedikit tanpa memikirkan dua pintu akses. Toh tanpa pintu akses, jalan kebaikan selalu menawarkan kebahagiaan dan ketenangan yang tiada batas. Bayangkanlah jika setiap perubahan dari titik nol terjadi di setiap insan. Tak bisa dibayangkan sejuta pahlawan yang bakal lahir di dunia. Kita mungkin akan melupakan syurga yang hakiki, kehidupan setelah dunia. Karena merasakan nikmatnya syurga dunia tanpa sifat duniawiyah.

Ditulis saat kepala mulai ngawur. Mulai ngantuk dan bersiap mensucikan diri kemudian tidur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s