When We’re Mad

There is a time.
When We gotta blow it up.
Smile fade away.

Ketika emosi datang, hal yang sangat amat ingin saya lakukan adalah briefing dengan Tuhan. Akhir-akhir ini, mencoba untuk mengkaji makna briefing spiritual itu memang sulit. Intinya, mengartikan hal tersebut sebagai kewajiban dengan gerakan-gerakannya melahirkan kejenuhan. Alhamdulillah saat mulai memahami, saya kebanyakan menikmati waktu-waktu saya dengan Nya. Tapi sialnya hari ini saya diberi jeda oleh Allah. you know what woman got every month.
Jadinya rasa meledak itu saya dinginkan secara manual. Berpegian, berjalan langkah demi langkah mengurangi rasa panas itu. Saya jadi sesosok demon sekarang. Ya, khusus untuk orang yang kerap menjadi objek pembangkit amarah.

Sebenarnya saya bisa mengungkapkan amarah dalam tulisan. Menulisnya agar yang bersangkutan  merasa. Namun tulisan sepertinya akan terus dibaca dan akan mengingatkanku kapan saja aku melihatnya. Saya gak mau mengabadikan amarah dalam tulisan. Sama saja dengan memelihara setan-setan kecil. Well, percikan amarah berpotensi membuat kita buta jika tak dikontrol. Kita bisa kehilangan kendali.
Saya percaya ada orang yang mampu menjaga kesabaran bahkan memelihara kesabarannya. Namun saya harus menyesuaikan konteksnya. I mean, kondisinya, apa yang ia geluti dan apa yang ada di sekelilingnya. Lalu saya mencoba mencocokkan dengan kondisi saat ini. Menjadi geram atau marah menurut saya wajar. Ya memang watak pemarah juga banyak di sekitar kita. But I’m not one of them, trust me.

Sosok yang ingin dimengerti. Thats what exactly I meant. Mari bicara melalui sudut pandang saya. Bukannya ingin mengungkit masa lalu. Tapi mengapa zaman sekarang manusia tak tahu diri betul-betul bertebaran di mana-mana? Bahkan dalam kehidupan sehari-hari kita kerap  menjumpai orang semacam itu. Kau tahu, itu sangat mudah disadari dan dideteksi jika selama ini kau ditemani orang-orang rendah hati di sekitarmu.
Mari kita berbicara masalah balas membalas. Kebanyakan amarah berawal dari respon jelek atau perlakuan tidak baik dari pihak kedua. Anggaplah kita sebagai pihak pertama yang awalnya tidak berniat menciptakan perasaan yang tidak nyaman. Namun manusia memang berpotensi untuk meluapkan emosi kemarahan utamanya saat mereka berada di saat-saat yang kurang nyaman. maka keluarkan ungkapan atau respon yang kurang baik. Finally, pihak kedua pun menanggapi dengan sedikit sinis. Emosi dibalas emosi berujung kejelekan yang tak terpuji.
Balas membalas. Itu ditanamkan beberapa manusia. Baik, dibalas baik. Meski tak semua yang membalas kebaikan dengan kebaikan. Ada yang membalasnya serta mengabaikannya. Kejahatan pun sangat berambisi untuk mereka balas. Mungkin mereka berpikir, kenapa aku harus baik di saat ia jahat padaku? Maaf ini bukan suara hati.

Well pada kenyataannya kita harus mengakui bahwa kadang kita merasakan hal itu. Kendati demikian, tak semua manusia membalas kejahatan dengan kejahatan yang bahkan berlebih. Masih ada orang-orang mulia di sekitar kita. Orang yang selalu kurindukan untuk dijadikan teman, sahabat, saudara, keluarga, intinya bagian dari hidupku. Orang tanpa ambisi dan kerap memberi inspirasi hidup.
Sebagai muslim, kita punya pegangan, pedoman atau petunjuk berupa kitab suci AlQuran. Tak ada petunjuk yang lebih Maha dari AlQuran. Orang menyebutnya sebagai Qalamullah. Permasalahannya adalah apakah masih banyak dari kita yang percaya dan mengimaninya?
Setiap person tentu pernah khilaf, bahkan sampai saat ini. Tapi saya percaya banyak dari kita yang sangat amat ingin menjadi baik dan mulia di sisi-Nya. Dengan kepercayaan seperti itu, saya yakin semua bakal bermuara pada satu sumber. Melakukan segalanya karena mengharapkan ridha Allah swt.

Beberapa dari kita, saat ini mungkin mencibir jika membahas secara detil tentang agama. Dalam kata lain, beberapa menganggap religious thing is such a bullshit. Bisa saya rasakan. Ketika manusia berada di titik kejenuhan yang ia ciptakan sendiri. Permasalahannya, kita selalu menyalahkan keadaan buruk yang kita ciptakan sendiri.
Saya sebenarnya tidak memiliki kapasitas untuk membahas such thing. You know, I have problem with emotion and stuff. Haha. Yes, but as I said, I personally want to be and get the best of all. Badly. Sebagai muslim, kita memiliki solusi yang sangat tepat. Islam. Islam way which is inspiring alot.

Logikanya, saling melempar dan membalas amarah tak pernah berakhir baik dimanapun kapanpun. Jika semua orang terlanjur baik, dimana proses pengujian kita sebagai manusia? Bagaimana kesabaran kita diuji? Tak akan ada nikmatnya tanpa semua itu. Apa jadinya kalau semua orang tidak rela untuk menjadi satu-satunya yang mengalah, berkorban atau sakit demi akhir yang bahagia. Air mata bukan tanda kekalahan. Menyerahkan semuanya kepada Allah membuat hati plong. Trust me!

Bukan orang yang sabar, namun saya pernah merasakannya. Usia yang masuk kepala dua menuntut sikap dewasa, meski dewasa tak diukur dari umur. Meski begitu saya menjadikan umur saya sebagai penenang dan penetralisir emosi. Dimana di situasi tertentu saya berkata kepada diri sendiri “Tenang, kamu lebih tua dibanding mereka. Atau jika mereka justru lebih tua dengan ; Tenang. Kamu lebih tahu dari mereka. Blablabla,”.
Eventually. I am the one who’s gonna say,
The older the better.
The older the wiser.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s