Kakak dan Kerinduanku…

Kakak, Aku Rindu.

Assalamu Alaikum.
Tajuk rindu selalu terkait rasa yang mendalam. Kumerindu wahai malam. Rindu yang tak bertepi untuk saat ini. Tiba-tiba ingin kuhempaskan segala rasa rindu yang terbesar tanpa arah. Jikapun arah itu ada, itulah surga. Sebab kuyakin seseorang yang akan jadi tempat berlabuhnya rinduku ada di surga.

Entah aku bodoh atau apa. Tapi aku yakin kau sedang melihatku menuliskan hal ini sebagai postingan di blogku. Aku tak bisa tidur. Tiba-tiba rinduku padamu mengusikku. Aku tahu, aku harus menuliskan perasaan ini. Aku harus menumpahkannya.

Apa kabarmu wahai sang kakak, sang anak pertama, sang idaman para orang tua dan sahabatnya. Bagiku kau pernah menjadi anak yang lahir sebelum diriku. Kau pernah ada dan disebut “kakak” saat tangisanku menandai lahirnya kehidupan baru. Kau pernah jadi tanda kebahagiaan dan kesempurnaan  sepasang suami isteri.

Sekarang, bagiku kau selalu jadi seorang kakak, penyelamat dan malaikat yang kupercaya senantiasa mengawasiku dari kejauhan. Entah itu dari langit yang indah di sana atau dari kedekatan yang bahkan kerap kurasakan. Kau kerap hadir di mimpiku. Merasuk dan menyesakkan dadaku. Kala itu, aku pikir kau sedang merasuki otakku yang dipenuhi pikiran hampa.

Tak pernah kubayangkan cara terindah mengingatmu. Bagaimana menenangkan hati saat tiba-tiba tersadar bahwa aku membutuhkanmu. Sebab yang ada hanya sesak di dada dan kucuran air mata yang seakan berbicara.
Aku rindu. Sangat rindu.

Kuharap jika kau sempat,bacalah seluruh tulisan ini. Agar kita bisa bernostalgia dalam dunia yang betul-betul lain.
Wahai kakak, aku ingin mengungkapkan penyesalanku. Yang kuingat, aku baru memanggilmu kakak saat engkau duduk di kelas 6 SD. Mungkin orang tua kita belum terlalu menekankan kewajiban memanggil sebutan kakak dan adik seperti saat ini. Namun saya yakin kita dulu saling menyayangi satu sama lain.
Wahai kakak, kamu pasti ingat saat kecil kita kerap meributkan hal-hal yang sepele. Bahkan menimbulkan perkelahian yang saat ini saya pikir sangat kekanak-kanakan. Dan itu wajar😉 Tapi kita dulu seperti Tom dan Jerry yang saling mengejar, balas membalas sampai memutari area rumah (yang dulu sangat amat kecil).
Kakak, aku yakin kamu pasti tertawa mengingatnya. Aku pun begitu. Jika perkelahian muncul, aku tak mau mengalah. Kakak kadang lelah menghadapi aku sehingga terpaksa menjauhiku. Dasar aku keras kepala. Jika ujung-ujungnya aku menangis, kau selalu menghampiriku dan mengatakan “minta maafka’ nah”. Sebuah permintaan maaf yang saat ini sangat jarang kudengar, kakakku. Dan aku merindukan kata itu keluar dari mulutmu.
Saat kakak menyatakan maaf, air mataku terus mengalir, makin deras. Kakak, mungkin saat itu kau berpikir aku menjadi semakin sedih karena perlakuanmu terhadapku. Tapi sebaliknya, air mata deras menandakan rasa haru yang begitu dalam karena engkau sudi meminta maaf. Padahal aku yang selalu salah.

Kakak, ingatkah saat kita sekolah bersama di bangku SD?. Kita berdua saat itu selalu telat dijemput Bapak. Bapak terlalu sibuk waktu itu. Padahal, kampus IAIN (sekarang UIN) cukup dekat. Tapi kita berdua selalu menunggu di samping kelasmu. Area yang sangat berdebu karena belum dipasangi paving blok. Kau kerap berkumpul bersama teman-teman akrabmu. Dan aku sibuk memerhatikan kejenakaan kalian. Beberapa teman kakak masih kuingat. Salah satunya kak Aslam, Daru, Dian dan lainnya hanya ingat rupanya.

Seingatku, salah satu teman akrab kakak yaitu Daru pernah datang ke rumah saat kakak memutuskan untuk pergi. Daru, seorang anak Nasrani yang cukup dekat dengan kakak. Dimanapun kalian kerap terlihat berdua. Entah chemistry apa yang mempersatukan kalian. Tapi di beberapa kesempatan, saat itu kusimpulkan Daru memang anak yang baik. Seingatku Daru juga punya adik laki-laki bernama Mukti. Mereka adalah sepasang kakak beradik yang cukup ganteng. Sama gantengnya denganmu kakak. Tapi, apakah aku cantik di matamu? Hmm, jangan tertawa kak. Saat ini wajahku penuh dengan jerawat dan aku menjadi semakin lebar😀

Kakak, ingatkah sewaktu sepatuku dan sepatu temanmu tak sengaja tertukar? Aku pusing setengah mati. Aku sangat ingat, sepatu hitam dengan merek New*ra. Saat itu sepatu kami tertukar saat bergantian memasuki perpustakaan. Dan untungnya, berkat kakak, kami kembali menemukan pasangan yang cocok. Sungguh aneh saat itu.

Kakak, apakau kau ingat juga, beberapa teman kelas cewek kakak cukup mengusikmu? Pasalnya mereka yang memiliki materi berlebih selalu jadi perhatian utama beberapa guru. Saat itu, aku ingat betapa kau membenci tipical orang seperti itu. Ketika mereka di-anak emaskan karena harta, bukan karena sikap baik atau prestasinya. Well, akupun saat ini banyak menemukan orang macam itu. Dunia ini memang selalu terbalik dari apa yang kita harapkan. Namun, aku berusaha untuk tidak ikut terbalik oleh arusnya.

Kakak, masih banyak sekali nostalgia yang ingin kubagi denganmu. Hanya, saat ini aku disapa oleh kerinduan yang memuncak dan merasa harus menumpahkannya dalam tulisan. Semoga dengan tulisan ini anak-anak , suami dan sahabatku kelak tahu bisa turut mengenang kakak paling istimewa dalam hidupku. Kakak, saat ini memang sangat enak berbicara “seandainya”. Misalnya, “seandainya” saat itu kutahu kepergianmu ke Gontor adalah saat terakhir kita bertemu, aku akan…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

Kakak, kepalaku makin pusing. Mataku sembab oleh air mata. Tapi aku harus menyelesaikannya. Aku yakin kau selalu memperhatikanku dari tempatmu yang indah. Kakakku yang ganteng, aku merindukan saat-saat kita jalan kaki dari sekolah jika Bapak kadang lambat menjemput. Perjalanan saat itu tak meninggalkan lelah. Di kala hujan dan panas, kita sering jalan kaki saat pulang sekolah. Kadang orang yang tak tahu apa-apa mengira kita adalah remaja yang pacaran. Apa yang ada di otak mereka? Sungguh lawas saat itu.

Kakak, ingatkah saat Bapak memasukkan kita di perguruan tapak suci di IAIN? Bapak kita sangat semangat saat itu. Aku ingat, kita membeli seragam merah itu di sebuah tempat dengan pemiliknya yang sangat tua. Sampai-sampai menghitung uang kembalian memerlukan waktu yang sangat lama. Hehe, aku ingat itu kak. Hal yang paling menggelikan, saat aku dan kakak langsung mengenakan baju itu sepulang dari toko. Di motor yang dikendarai Bapak, kita berdua merasa sangat bangga saat itu. Sungguh menggelikan🙂

Tak hanya itu, masa-masa mengikuti les tapak suci cukup berat bagiku. Pasalnya, latihan kadang mengganggu jam belajarku saat masuk siang. Tapi, kadang Bapak mengatakan bahwa aku minta izin saja pada guru. Sementara saat itu aku mulai bosan. Apalagi saat teman-temanku tahu aku ikut bela diri, mereka mulai menggodaku, dan sumpah aku sangat malu. Pikirku saat itu, aku tak mau lagi ikut tapak suci. Tapi dasar ayah berwatak keras, aku dipaksa, bahkan Bapak sendiri yang meminta izin pada guruku.

Kakak, latihan bela diri dengan semangat kau ikuti. Ujian apapun, dimanapun, kau ikuti. Bahkan di ujian penaikan sabuk yang cukup sulit menurutku, kau pergi sendirian tanpaku. Karena kau benar-benar tak mau ketinggalan. Tapi saat itu kakak bercerita, sempat terjatuh dan meninggalkan luka di bagian punggung. Aku sangat sedih mendengarnya kala itu.

Kakak, aku mulai ngantuk. Ehm, sekali lagi apa kabarmu kak? Kak, maafkan aku yang sering menyia-nyiakan waktu demi sesuatu yang tak penting. Aku sangat malu mengetahui kau kerap mengawasiku dari kejauhan.

Kak, aku rindu suhu panas badanmu jika kita sedang di motor, sepulang sekolah. Aku rindu pada rambut dan wajahmu yang menurutku, dan remaja-remaja puteri lainnya, tampan. Aku rindu mendengarmu mengumandangkan adzan saat kau duduk di bangku kelas 6 SD. Rindu, rindu. Tapi rindu ini Insya Allah menemukan sebuah tepi. Tempat pertemuan akhir yang dijanjikan Allah.

Oh iya. Kakak, aku ingin menjadi sepertimu. Pergi dalam keadaan syahid dan muda. Menetap di Jannatun naim bersama makhluk kesayangan Allah. Kak, entah aku gila atau apa. Tapi aku harap Allah selalu mengingatkanku akan dirimu dan segala perjuanganmu.
Kakak, tunggu aku, Bapak, Ibu dan adik-adik di Jannatun Na’im Allah. Semoga semua makhluk berakhir di tempat yang indah itu. Amin ya Rabbalalamin.

Kakak, aku sudah mengantuk. Sekian dulu luapan rinduku. Ini hanya satu dari sejuta rinduku kak. Salam hangat dari adik-adik. Salam pada sahabat-sahabat Rasul, dan baginda Muhammad SAW (am I crazy?) Nope. Thats all I hope. This note might be way too much. But I really feel so.

To the dearest Alm. Yahya Muhaimin Hading,
Somewhere, in the sweetest place known as heaven.

Sincerely,
Your lovely, awkward, looney sister Nurul  Fajriyah Hading,
Nun,walqalami wa maa yasturuun. Wassalamu alaikum warahmatullah.

3 thoughts on “Kakak dan Kerinduanku…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s