The feeling versus The thoughts

Sungguh miris rasanya ketika manusia cukup yakin dengan keyakinannya. Seperti merasa selalu bijak, dewasa. You know, used to look better all the way.

Mungkin karena ilmu yang sebenarnya belum cukup, dengan kemampuan bersilat lidah, merasa di atas awan.

Bagi saya pribadi, manusia memiliki potensi untuk bersikap labil. Itu wajar. Namun besar atau sedikit itu tergantung si manusia itu. Kelabilan manusia dalam beberapa hal yang spesifik kadang menjadi tabiat yang sulit dihilangkan. Semisal rasa temperamen atau sensitif.

Lagi lagi kita diajak berkorban. Karena potensi kelabilan atau dalam hal ini saya anggap sebagai kekurangan dan kelemahan manusia timbul di kondisi yang rawan. Di saat sedih atau hal hal yang tidak diharapkan terjadi. Luapan luapan emosi pun ingin segera disalurkan.

Well, kata kuncinya adalah bagaimana kita mengorbankan nafsu dan gelora emosional untuk tetap terlihat tenang dan jernih. Sulit memang tapi gak ada salahnya mencoba.

Penulis juga merasakan hal hal yang serupa. Mendapati diri kita sedang khilaf memang cukup miris. Apalagi kalau kita sadar bahwa aplikasi kesabaran, tawakkal dan ikhlas itu super duper nikmat.

Jika nasi telah menjadi bubur, mari menikmati buburnya. Tapi jangan lengah, kita tak mau terus2an menikmati bubur yang sama. #ngawur mode on!

2 thoughts on “The feeling versus The thoughts

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s