Cinta Suci Zahrana

GambarBerkat keseriusan teman-teman, saya punya kesempatan menyaksikan Cinta Suci Zahrana. Alhamdulillah, thanks to @rahmakizora🙂.

Bersama @pidehikari dan @MiraZari dan tentu saja sya @fajriyahading kami meramaikan bioskop Mtos yang gak begitu ramai pada hari Rabu, pukul 18.15.
Posisi duduk sangat nyaman lah. Suasana hati alhamdulillah juga bagus. Rasa excited juga membuncah saat melihat pemeran utamanya yang dimainkan oleh Meyda Sefira, yang juga memerankan Husna di Ketika Cinta Bertasbih. Not much to say, not really that great but gotta say, syukur banget sampai saat ini film bertema religi masih eksis melebarkan sayapnya di dunia perfilman. Couldnt imagine what would this world  be without some genius man like Mr. Habiburrahman. Come on guys, thank him.
Langsung ke review saya mengenai film tsb. Jika sudah menyaksikan Ketika Cinta Bertasbih, nuansanya akan terasa familiar. Setting pertama di sebuah perguruan tinggi, Universitas Mangunkarsa Semarang. Sang dosen berprestasi, Dewi Zahrana mendapatkan another achievement dari Beijing. Disambut khusus oleh kolega serta pihak universitas. Kepopulerannya sangat diakui. Kemudian ada beberapa pemain yang kuat perannya seperti Sang Dekan yang rada negatif, sampai satu mahasiswa cakep bernama Hasan. Nuansa yang saya katakan tak asing ketika sang dosen berada di rumahnya, bersama sang ayah dan ibunya. Ayahnya sudah cukup tua dan menderita sakit jantung, sangat menginginkan sang anak (Zahrana) untuk segera menikah dan menghasilkan keturunan.

Awalnya, saya pikir ayahnya sangat egois karena sempat tidak mengapresiasi prestasi Zahrana. Ia hanya menginginkan anaknya untuk menikah, dan tentu saja, kelak bisa menimang cucunya sendiri.
Well, Zahrana katanya sudah berumur 34 tahun. Dan memang harus segera melepas masa lajangnya. Sosok Meyda memang sangat pas memerankan Zahrana karena penghayatannya. Namun kurang sempurna sebetulnya. Suaranya memang masih agak remaja, meski sikap tegasnya sangat mewakili ibu dosen yang smart.
Nah, Zahrana pun terdesak untuk segera menikah mengingat kondisi ayahnya yang sakitnya semakin parah. Yang lebih gak sreg saat dekannya sendiri, Pak Karman datang melamarnya. Huh, adegan ini berhasil mendatangkan kejengkelan penontong. Wong sudah tua tapi kelakukannya itu loh, nakal, disgusting naudzubillah😀.
Saat ditolak, sang dekan malah ingin memberi pelajaran. Zaharansemakin tertekan karena ingin didepak dari universitas karena masalah personal (Ini cukup non-sense). Belum lagi penghinaan dekan yang dilakukan via sms, mengatakan Zahrana adalah perawan tua yang gak tahu diri Astagfirullah. Kedua orang tua Rana pun turut sedih melihat keadaan anaknya. Ternyata yang saya dapatkan, sosok sang ayah sangat tegar, penyayang dan bertanggung jawab. Ia tidak mau memaksakan kehendaknya atas anak semata wayangnya itu. Ia pun menghormati pilihan Rana yangmemprioritaskan calon suami beriman, bertanggung jawab intinya soleh.
Setelah beberapa adegan, finally Rana dipertemukan oleh alumni pesantren yang sehari-harinya menjual kerupuk. Calon itu dipilihkan oleh Nyai dan Kiyai di pesantren terdekat. Well, as you can see, Azam pemeran KCB ikut nimbrung. Sikap penjual kerupuk emang betul-betul shaleh. Semoga di kehidupan nyata kita dipertemukan dengan banyak orang yang seperti itu (Amin).
Sad ending adalah pada saat Rahmat, si penjual kerupuk itu tewas ditabrak entah kereta api atau mobil. Rana sekeluarga jadi syok.Betapa tidak, mereka sudah menyiapkan resepsi dan segalanya. Innalillah, ayah Rana meninggal akibat serangan jantung, yang mungkin dipicu oleh berita mengejutkan tersebut.
Ditimpa ujian bertubi, Rana menjadi ambruk. Ia masuk rumah sakit karena begitu lemah dan hampir putus asa. Beruntung ia memiliki sahabat yang menurut saya soleha, yang kerap menjaganya. Dokter yang merawat Rana kemudian meminta psikiater untuk menghibur Rana. Ya, karena dunia sempit, ternyata psikiater itu adalah ibunya Hasan–mahasiswa cakep yang diperankan oleh Miller. FYI, Hasan tak punya hubungan asmara dengan Nina, salah satu mahasiswi cantik yang ambil bagian di film ini. Mereka ternyata keluarga dekat. Ini adalah suatu modus hehehehe.
Yeah, alhamdulllah layaknya cerita dongeng, cinderella, Rana berakhir bahagia dengan pinangan mesra dari mahasiswanya. Rasa haru juga membuncah saat mereka berbicara via telepon. After all, cerita ini memang agak kaku, dan kurang diminati bagi sebagian besar orang yang pesimis dengan rencana Allah.
Menurut saya, value dari film islami seperti itu banyak. One of ’em, kita wanita boleh mengejar pendidikan setinggi-tingginya. Namun menikah juga adalah sunnah, dianjurkan. Semua orang ingin menikah demi kebahagiaan luar dalam. Menikah itu ibadah. Namun tergesa-gesa bukanlah jalan keluar. Kecuali, melihat sosok yang sesuai dengan kriteria, pria yang tunduk kepadaNya kemudian menunda adalah hal yang gak baik. Hmm, mungkin dibicarakan terlebih dahulu bisa. Di sini saya semacam konsultan pernikahan. Tapi apapun itu, bagaimanapun itu, siapapun itu, Allah akan menyiapkan yang terbaik jika kita percaya pada rencananya indahnya🙂. Hoammmm

Mario Teguh, Eh, Nurul Fajriyah signing out.
Wassalam🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s