Dik Adikku Saudaraku Sahabatku :)

                  Call it a tribe, call it a clan, call it a family, whatever you call it, whoever you are, you need one.

Punya saudara banyak itu bikin hidup berwarna. Warna yang positif ketika kita bisa belajar untuk mensyukuri satu sama lain. Saling memotivasi satu sama lain. Belajar mengesampingkan ego, mulai dari yang tertua sampai yang paling kecil. Belajar saling menghormati dan menyanyangi. Ini adalah sarana penempaan bagi yang saudaranya banyak🙂

Keluarga saya Alhamdulillah sederhana saja. Meski kadang saya serta saudara lainnya sering ngacau kalau lagi minta yang macam-macam, kebanyakan dari kita mengerti bahwa banyak yang perlu dihargai dalam hidup ini. Selain itu ada prioritas. Tak bisa seenak jigong wasting money, meskipun salah satu dari kami kadang melakukan hal itu di beberapa kesempatan. Punya saudara yang banyak mesti bisa membuang egonya jauh-jauh. Dari sini saya sedikit-sedikit belajar jadi sabar, menghadapai sekian rupa sifat saudara saya. Sekaligus menjadi tanggung jawab yang besar sebagai anak yang dituakan setelah Almarhum Yahya berpulang ke rahmatullah.

Usia terpaut satu tahun dengan kakak saya membuat kami cukup dekat. Bisa dibilang saat masa-masa balita. saya juga ga yakin dengan hal ini, karena saya ga ingat betul. Tapi foto-foto masa kecil menggambarkan momen terindah karena anaknya Pak Hading baru dua haha.

Setelah Yahya dan Nurul, lalu menyusul Syakir Abdullah. Adik cowok dengan pipi chubby nya yang menambah keceriaan di rumah kami. Sesaat setelah Kiki-panggilan Syakir- lahir, kita sekeluarga pindah dari Bonto Sunggu ke Jalan Muh. Tahir, Kumala Permai (tempat kami menetap sekarang. Di sini esensi kehidupan makin berasa. Rumah baru terkesan lebih kecil dari sebelumnya. Beberapa tahun kemudian, lahir lagi anak ke empat, Ahmad Fikri. Rumah tambah rame dan otomatis, kebutuhan pun bertambah. Pengeluaran harus(nya) lebih kecil dari pemasukan, kadang setara, kadang tak seimbang. Mulai saat itu, saya, kakak dan adik sudah dibiasakan untuk saling mengalah, tak minta macam-macam🙂.

Meski begitu, toh kita tetap anak-anak yang ga dan belum mau mengerti. Orang tua sekuat tenaga mencari nafkah demi mencukupi kebutuhan. Anak ga tahu apa-apa tentang itu semua. Belakangan, banyak orang yang bilang, nantilah kamu rasakan ketika sudah punya anak.

Belum cukup besar anak ke empat, lahir lagi anak kelima, Nurul Afifah disusul Khaerul Muzakkir kemudian meluncur Habiburrahman. Wah, semacam perlombaan di sirkuit😀. Alhamdulillah. Banyaknya saudara membuat kita bisa saling mengenal satu sama lain. Memahami perbedaan dan saling meluruskan. Tapi yang inti itu saya loh, secara saya seorang kakak, kepala suku. Dulunya, saya semacam hepi karena banyak adik-adik yang bisa disuruh-suruh hhihih. Tapi baru aku sadari, setelah tiap detik dinasehatin Ibu kalau ajaran yang paling baik itu amal perbuatan. Dari situ adik-adik bisa niru meski lama prosesnya. “Jadi sebagai kakak jangan pintar ngomong doang, tapi harus banyak aplikasi sebagai contoh yang baik,” begitu kira-kira maksud Ibu🙂

Sulit emang, semua ngaku gitu. Tapi banyak kok orang berhasil yang memulai hidup dari nol, dan punya saudara banyak. Tinggal bagaimana masing-masing individu mau kerja keras, sampai akhirnya bilang hard work pays off🙂. InsyaAllah deh, doakan saya juga yaaa.

Adik-adik saya mungkin ga sehebat adik-adik mereka atau adik-adik kamu. Tapi saya bersyukur banget dianugerahi mereka. Kiki, Apri, Upi, Elu dan Abi.🙂

Dari tujuh bersaudara, yang gadis ada dua, double Nurul. Nurul Afifah alias Upi bisa dijadikan teman curhat. Masalah apapun mulai dari yang umum, pribadi seperti masalah hati. Saya percaya sama adik saya yang satu ini. Saya juga harus maklum karena dia masih remaja sehingga kadang keselip sana sini. Nah tugasku mi di situ, act responsible, wise tapi ga boleh esmosi. Meskipun masih biasa ada unsur esmosinya hhe. Punya saudara perempuan emang anugerah banget terimakasih ya Allah. Hal-hal yang ga bisa disampaikan sama saudara lelaki tersalurkan sama Upi (wajarlah). Ga jarang saya menanyakan aktivitasnya di sekolahan, teman-temannya dsb. Saya juga selalu mendoktrinnya dengan ajaran yang insyaAllah sesuai. Meski hal yang saya katakan ga sepenuhnya mencerminkan saya. Well, unzur ma qaala wala tanzir man qala🙂

Kita emang punya banyak sahabat di luar sana. Tapi sedekat apapun,ada hal yang sepatutnya ga dikatakan ke sahabat kita itu. Masalah keluarga utamanya. Bukankah mulia jika kita tak mengumbar-ngumbar sesuatu dan menyelesaikan secara kekeluargaan? Itu yang saya suka. Sesi heart to heart dengan saudara kerap menimbulkan haru dan tawa. Itulah yang membuat kita makin dekat dan sehati. Bukankah itu perannya? Menciptakan rasa saling memiliki. “Harta yang paling berharga adalah keluarga,” kutipan dari ost. Keluarga Cemara .Dan yang paling utama itu adalah mengajak seluruh saudara untuk stay on the right track. Birrul walidain, thats what matter too🙂.

Sesi curhat paling sering dilakukan saat makan. Paling sering ngumpul di meja makan secara bersamaan itu saya , Upi, Elu dan Abi. Abi tergolong sembrono dan rada-rada jengkelin gitu ya.Tapi kadang kita berusaha untuk ga membentak. Semakin dibentak, kadang tambah menjadi-jadi. Saya paling memfavoritkan Si Elu ini. Kalau diberi tanggung jawab, ia laksanakan. Meski jika khilaf suka emosi juga dia. Hahaha (sama kayak saya). Saya kerap memuji Elu karena dia bisa mengayomi Abi dan Wahyu (anak angkat ortu). Belakangan, saya diberitahu kalau memuji dan memberi tanggung jawab bisa membuat adik-adik belajar sedikit demi sedikit untuk memimpin. Over all, Elu bisa diajak kompromi. selamat Elu, kamu menjadi adik terfavoritnya Kak Nurul kali ini wakaka😀

Tapi paling berasa emang Si Upi ya. Saya tahu Upi jauh lebih bagus dari saya. Hapalan alQurannya lebih banyak dan mulai istiqamah sejak dini (Amin). Secara saya juga sekamar sama Upi. Momen becanda sama dia, pergi bersama ke suatu tempat, sampai minta pendapat sama Upi tentang penampilan (meski pendapat Upi ga pernah memuaskan saya).

Selain itu, ada yang lebih-lebih membahagiakan. Orang tua juga adalah sahabat terdekat dan terindah. Meski kadang aksesnya susah woy. apalagi sama bapak hahaha. Bapak jam terbangnya lumayan lah, kalau lagi capek-capeknya lalu ada anak yang miring dikit hmmm delicious hahaha. Lu tau kan maksud gue ;D

 Indahnya adalah ketika kita semua bisa saling mengerti satu sama lain, ayah ke ibu, ayah ibu ke anak, anak ke ayah ibu. Apalagi kalau anak-anaknya bisa bergotong royong (beuh) membahagiakan ortu? Beuh ademnyoo🙂

Meski baru sekali-kali kita mewujudkan hal itu, derita dan tangis hanyalah bagian dari kebahagiaan yang sebenarnya. Kita ga akan pernah belajar jika tak ada kesalahan. Bukan berarti kita suka megulang kesalahan loh. Tapi intinya adalah jangan pasrah atau mengeluh tentang keadaan dan kondisi kita sekarang. Yakin aja sama Allah, saling mengingatkanlah kita. Toh derita itu salah satu anugerah juga, menjembatani kita untuk lebih dekat dengan sang khalik. Sabar dan ikhlas adalah kata kuncinya, jangan berhenti berupaya. Saya ngomong ini bukan karena expert-nya loh. Tapi sekadar mengingatkan. Toh saya bakal butuh kamu, dia suatu saat untuk jadi pengingat saya.

Yah kita anggaplah ini my own show.Sekian jama’ah sekalian. Moga bermanfaat. Nun wal qalaami wa maa yasturun wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s