DO NOT DESPISE

“Moments.

Our life is series of moment.

Each one is a journey to the end.

Let them go, let them go” –NOW IS GOOD

 

 Have you ever despise your self?

Dont ask me back. Dont ask me the same question.

I’ll say I dont, never. Even if  I did.

 

Self is supposed to be embraced.

Gather its soul, grow it, keep it.

 

Now I see my self standing alone in this big world.

Big bad world, they said.

A soul in a self.

Build  anything in here,in my self.

So I wont despise anymore.

Told you, I did despise my self.

I was.

 

I might be a do-badder.

Like breaking some shit.

Well in some point of view, I might an  innocent one.

 

Let it be. Let them go.

Let them embrace me.

Let them judge.

I’ll forever stay in this corpse anyway.

 

The corpse I live with.

I dont despise  at all.

 

 

Regards.

Soul flatterer

Manfaat Sholat Dhuha Secara Medis

Abu Dzar r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Setiap tulang dan persendian badan dari kamu ada sedekahnya; setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap amar ma’ruf adalah sedekah, dan setiap nahi munkar adalah sedekah. Maka, yang dapat mencukupi hal itu hanyalah dua rakaat yang dilakukannya dari Shalat Dhuha.” (HR Ahmad, Muslim, dan Abu Dawud).

Abu Hurairah r.a. berkata, “Kekasihku, Muhammad Saw. Berwasiat kepadaku agar melakukan tiga hal: Berpuasa tiga hari pada setiap bulan(Hijriah, yaitu puasa putih atau Bidl, tanggal 13,14,15), dua rakaat shalat Dhuha, dan agar aku melakukan shalat Witir dulu sebelum tidur.” (HR Bukhari-Muslim).
Rasulullah Saw. bersabda: “Shalat Dhuha itu shalat orang yang kembali kepada Allah, setelah orang-orang mulai lupa dan sibuk bekerja, yaitu pada waktu anak-anak unta bangun karena panas tempat berbaringnya.” (HR Muslim)

Buraidah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Dalam tubuh manusia terdapat 360 persendian, dan ia wajib bersedekah untuk tiap persendiannya.” Para sahabat bertanya, “Siapa yang sanggup, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ludah dalam masjid yang dipendamnya atau sesuatu yang disingkirkannya dari jalan. Jika ia tidak mampu,maka dua rakaat Dhuha sudah mencukupinya.” (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Peregangan sungguh mutlak diperlukan, untuk kesiapan kita menyongsong hari penuh tantangan. Dan, Rasulullah Saw. menyinggungnya dengan ungkapan santun: “hak dari setiap persendian.” Semuanya cukup dengan dua rakaat dhuha.

Shalat memang memiliki kombinasi unik dari tiap gerakannya bagi tubuh. Hanya saja untuk Dhuha, waktunyalah yang memang unik; waktu ketika tubuh memerlukan energy namun juga harus bersiap menghadang stress yang menerpa.

Dr. Ebrahim Kazim-seorang dokter, peneliti, serta direktur dari Trinidad Islamic Academy-menyatakan, “Repeated and regular movements of the body during prayers improve muscle tone and power, tendon strength, joint flexibility and the cardio-vascular reserve.” Gerakan teratur dari shalat menguatkan otot berserta tendonnya, sendi serta berefek luar biasa terhadap system kardiovaskular.

Itulah peregangan dan persiapan untuk menghadapi tantangan, tapi bedanya dengan olah raga biasa adalah: pahalanya luar biasa! Abu Darda r.a. meriwayatkan bahwa Nabi Saw. bersabda, Allah ‘azza wa jalla berfirman: “Wahai anak Adam kerjakanlah shalat empat rakaat kepada-Ku pada permulaan siang niscaya Aku akan member kecukupan kepadamu sampai akhir siang.” (HR at-Tirmidzi).

Terlebih lagi shalat Dhuha tidak hanya berguna untuk mempersiapkan diri menghadapi hari dengan rangkaian gerakan teraturnya, tapi juga menangkal stress yang mungkin timbul dalam kegiatan sehari-hari, sesuai dengan keterangan dr. Ebrahim Kazim tentang shalat: “Simultaneously, tension is relieved in the mind due to the spiritual component, assisted by the secretion of enkephalins, endorphins, dynorphins, and others.”

Ada ketegangan yang lenyap karena tubuh secara fisiologis mengelurakan zat-zat seperti enkefalin dan endorphin. Zat ini sejenis morfin,termasuk opiate. Efek keduanya juga tidak berbeda dengan opiate lainnya. Bedanya, zat ini alami, diproduksi sendiri oleh tubuh, sehingga lebih bermanfaat dan terkontrol.

Jika barang-barang terlarang macam morfin bisa memberi rasa senang-namun kemudian mengakibatkan ketagihan disertai segala efek negatifnya- endorphin dan enkefalin tidak. Ia memberi rasa bahagia, lega, tenang, rileks, secara alami. Menjadikan seseorang tampak ebih optimis, hangat, menyenangkan, serta seolah menebarkan aura ini kepada lingkungan di sekelilingnya.

Subhanallah….Maka, shalat Dhuha-lah, peregangan sekaligus pereda stress. Inilah rehat yang tidak sekadar rehat. Daripada sekadar duduk-duduk mengobrol, ayo rehat dengan ber-Dhuha dan segera kembali beraktivitas setelahnya. Kemudian, rasakan bedanya!.
Semoga bermanfaat 🙂

Berikut ini tata cara melakukan sholat dhuha:
1.  Berniat untuk melaksanakan shalat sunat Dhuha setiap 2 rakaat 1 salam. Seperti biasa bahwa niat itu tidak harus dilafazkan, karena niat sudah dianggap cukup meski hanya di dalam hati.
2.  Membaca surah Al-Fatihah
3.  Membaca surah Asy-Syamsu (QS:91) pada rakaat pertama, atau cukup dengan membaca Qulya (QS:109) jika tidak hafal surah Asy-Syamsu itu.

4.  Membaca surah Adh-Dhuha (QS:93) pada rakaat kedua, atau cukup dengan   membaca Qulhu (QS:112) jika tidak hafal surah Adh-Dhuha.
5.  Rukuk, iktidal, sujud, duduk dua sujud, tasyahud dan salam adalah sama sebagaimana tata cara pelaksanaan shalat fardhu.
6.  Menutup shalat Dhuha dengan berdoa. Inipun bukan sesuatu yang wajib, hanya saja berdoa adalah kebiasaan yang sangat baik dan dianjurkan sebagai tanda penghambaan kita kepada ALLAH.

Sebagaimana shalat sunat lainnya, Dhuha dikerjakan dengan 2 rakaat 2 rakaat, artinya pada setiap 2 rakaat harus diakhiri dengan 1 kali salam.

Adapun surah-surah yang dibaca itu tidak ada hadis yang mengaturnya melainkan sekedar ijtihad belaka, kecuali membaca Qulya dan Qulhu adalah sunnah Rasulullah, tetapi bukan untuk shalat Dhuha, melainkan shalat Fajr. Kita tidak dibatasi membaca surah yang manapun yang kita sukai, karena semua Al-Qur’an adalah kebaikan.

http://www.sholat-dhuha.info/2011/03/manfaat-sholat-dhuha-secara-medis.html#.UJecf2_Mg1I

Ummul Mukminin ; The Very First Sight

Dear Pondok Pesantren Puteri Ummul Mukminin

Kesempatan mungkin tak selamanya ditunggu. Bisa dicari sekaligus dibuat. Hal  yang sangat memungkinkan, namun ga bakal terwujud  tanpa kehendak Allah SWT.  Di kesempatan kali ini, saya benar-benar  ingin mengenang atau lebih tepatnya menulis kenangan tentang  sebuah pondok bersejarah bernama Ummul Mukminin. Nama yang ga bisa dan ga bakal kulupa sampai akhir hayatku.  Pondok tempatku bernaung selama enam tahun  usai menyelesaikan pendidikan di SDN IKIP I Makassar.  Yang mereka sebut sekolah namun bagiku lebih kental dengan  suasana pondoknya. Mengikat dan meninggalkan bekas.

Ya, Ummul Mukminin adalah salah satu pesantren yang dinaungi organisasi Muhammadiyah. Bisa dibilang, ayahnya itu Muhammadiyah dan ibunya adalah Aisyiyah. Subhanallah. Arti Ummul Mukminin saja bisa melahirkan optimisme besar bagi sebagian besar orang tua yang menitipkan anaknya di sana. “Ibu Orang-orang Mukmin”. Tentunya, secara garis besar, santriwati Ummul Mukminin, sejatinya dapat meneladani kisah para Ummul Mukminin, atau paling tidak menjadi the real Ummul Mukminin, Ibu orang-orang yang beriman.

Menulis tentang Ummul Mukminin juga akan menimbulkan banyak pertanyaan, seperti bagaimana sebenarnya sejarah awal berdirinya pesantren yang satu ini. Well, honestly saya belum menciptakan kesempatan untuk interview secara mendalam mengenai itu. Padahal kalau dipikir-pikir, kenapa waktu enam tahun itu ga digunakan untuk mencari tahu lebih dalam mengenai sekolahnya sendiri LOL.

Secara umumnya aja ya. As we know, UM berdiri di atas tanah wakaf Hj. Athirah , Ibunda Jusuf Kalla. Saat itu tepatnya tahun 1965, Almarhumah aktif menjadi pengurus Tabligh Aisyiyah Cabang Makassar. Dari yang saya temukan dalam Media Kalla edisi Januari-Maret 2012, tanah wakaf tersebut merupakan sumbangan yang paling berkesan. Luas tanahnya kurang lebih dua hektar. Masjid Ummul Mukminin pun diberi nama Masjid Athirah.

Sa

Kembali ke cerita kenangan, saya tercatat sebagai angkatan ke-16 , atau masuk pada tahun 2008. Perkenalan saya sebenarnya begitu singkat dengan Si Ummul Mukminin ini. Sejak SD, you know, sebelum Alm. Yahya meninggal dunia dan mondok di Gontor, saya mendengar kabar dari Ibu dan Bapak yang berencana untuk mendaftarkan saya di pondok khusus puteri yan ada di Makassar.

Akhirnya Bapak mengajak saya, pergi untuk sekadar melihat suasana UM itu. Dengan dress pink yang unyu-unyu, tanpa mengenakan jilbab, berangkatlah saya bersama Bapak. Tiba di sana, wah seketika saya kok jadi gimana gitu. Sekelompok gadis berbusana muslim duduk-duduk santai di bawah pohon mangga yang gede  dan rindang banget. Cukup sepi sih. Intinya dulu pohon mangga yang besar banyaaaakkk buanget. Ada kesan seram sedikit buat saya,hhe.

Jadilah saat itu saya ikut tes pertama di Ummul Mukminin. Suasananya awkward banget. Secara Bapak yang mengantar tidak bisa menemani dari awal sampai akhir tes. Pulangnya aja saya dijemput. Beda loh sama anak-anak yang lain. Mereka tes bareng kenalan, bawa satu kompi keluarga pula. Jadi pas rehat gitu, mereka ceria banget nangkring bareng keluarga. Uhuk-uhuk jadi pengen nangis liatinnya.

Tes yang paling mengesankan itu tes wawancara. Saya ingat banget yang mewawancarai saya itu Ibu Qamariah, salah satu legend UM .  Begini kira-kira percakapannya.

Ibu Qomariah   : Masuk pesantren ini atas kemauan sendiri atau orang tua?

Saya                  : Saya sendiri Bu.

Ibu Qomariah   : Betul ji itu? Tidak dipaksa ji?

Saya                  : Iye Bu. (Dalam hati “Sebenarnya Orang Tua yang mau Bu. Saya mah terima-terima aja. Saya masih buta masalah begituan. Ikut-ikut ja saja. Haha”)

Begitulah kira-kira dan selanjutnya adalah masa-masa nervous yang saya rasakan sepulangnya dari UM. Pasalnya, UM is the only one i got man. Kebayang ga sih dumbatnya. Saya sering curhat ke Bapak. ‘Aduh lulusja itu’? Nah Bapaknya santai-santai kayak di pantai.  Finally, Yay. Alhamdulillah lulus juga.

Dan ternyata, di pesantren itu berasa banget suka dukanya bagi saya. Kita semacam ditempa, pokoknya. Over  all. Sukanya lebih banyak bagi saya sih tergantung dari bagaimana kita mensyukuri hidup. Kegembiraan yang dijalin bersama saudariku. Saudari se-kamar, se-asrama, se-kelas, dan se-angkatan. Belum lagi saudari dari adik kelas maupun kakak kelas. Sungguh anugerah terindah yang pernah kumiliki.

Ceritanya pas masuk UM, asrama udah ditentukan masing-masing. Gotcha! Nurul Fajriyah H dapat kamar 2 asrama 1. Hmm not bad, I thought. Posisi kamarnya pas di depan kamar Ibu Asrama, Ibu Hawaidah. Saat itu saya pikir strategis banget. Lama kelamaan baru ketahuan kalau kamar yang berhadapan dengan kamar Ibu Asrama paling miserable. Pasalnya kalau ribut, cekikikan dikit aja bakal ketahuan, dan dapat bonus dari beliau haha. Jadi mau blak-balakan salah, mau cekikikan salah, serba salah deh.

Masuk di kamar, aneh banget. Asli. Wajah-wajah baru yang ga pernah saya temui sebelumnya.

Intinya suasana yang saya rasakan masa-masa pertama di UM tak bisa dilupakan. Maklum, anak-anak baru yang ga tahu apa-apa bakal berpikir macam-macam tentang asrama dan segala peraturan. Asrama 1 yang berada di paling ujung, samping lapangan menurut saya cukup mengerikan saat itu. Banyak pohon mangga besar di samping kiri (dari depan). Kita selaku anak-anak baru juga kadang sok menciptakan beberapa isu tentang hantu lah dan sebagainya. Huh banyak kejadian misterius deh pokoknya saat u. Yang paling saya ingat adalah kejadian tengah malam. Suara teriakan dari kamar 5. Asli, dalam hitungan detik semua santri berlarian menuju koridor. Lucunya, saking ketakutan, anak yang ranjangnya di atas sampai loncat ke bawah tanpa tangga loh. Hebat ya kita. Beberapa sumber mengatakan, malam itu di samping kamar 5 ada tangan yang menjulur masuk, mengerikan tanganyaa, mirip monster apaaa gitu. Hmm, sudah mi deh. Malaska ingatki. Yang paling lucumi itu saat anak-anak di ranjang atas langsung melompat ke bawah dan tidak ingat lagi sama tangga. Padahal termasuk tinggi itu jaraknya gang ranjang atas ke lantai 😀

Masa-masa awkward  di tahun pertama juga diwarnai dengan banyaknya peraturan. Semua peraturan sudah berlaku bahkan untuk anak baru sekalipun, atau kelas 1. Berbahasa Inggris dan Arab, Ber-attitude. Dua penantian yang mengerikan adalah kismu lugah dan kismu amni. Jadi bagi yang ga berbahasa bakal diadili di mahkamah lugah. Kismu amni sendiri menangani santri yang pakaiannya ga wajar, makan tangan kiri, makan minum berdiri, atau hal-hal lainnya yang menyangkut etika. Saya ingat sekali bagaimana saya pertama kali melanggar. Pertama masuk, kudung shalat saya transparan. Dan di tengah kerumunan santri yang tengah menuju asrama, saya dipanggil salah seorang teman. Katanya saya dipanggil oleh kaka IRM (Sekarang IPM). Saya sontak kaget dan dumbat.

Kebayang ga sih, baru jadi santri baru sudah dianugerahi peraturan yang ketat kayak gitu. Belum lagi peraturan berbahasa, terus ada istilah jasus atau mata-mata. Ceritanya mereka yang diberikan tugas menjadi jasus harus mencatat teman yang ga berbahasa. Beuh, teman seangkatan saat itu banyak yang jadi jasus men. Pas keluar main, sedang bercanda ria dengan teman kamar, tiba-tiba ada seekor cewek yang nyamperin. Kenal juga enggak, eh langsung nanya-nanya nama gue. “Siapa namanu?” kata dia seperti polisi yang lagi menilang orang. Saya kan jadi bengong, untung saya aware, jadi curiga nih orang kok tanya2 nama. Hmm, pasti mau nyatet saya nih. Alhasil, saya pura-pura o’on (o’on memang ji na) dan berlalu, pergi menjauh. Dia pun terlihat ga puas. Sampai bertanya ke sekitar, mencari tahu nama saya siapa. Asli, serasa jadi buronan dengan adanya jasus men. Hidup ga tenang, haha. Mau gosip harus berbahasa pula. Beberapa santri sempat berpikir kalau jadi jasus itu enak. Pada akhirnya saya juga dapat tugas mulia jadi mata-mata. Gila, sama ga enaknya cuy. Kita harus cari orang bersalah yang sama aja mencari-cari kelasalan orang dalam waktu satu hari. Kalau ga dapet ya kena hukuman. Kebanyakan santri yang ga dapet target malah mencatat teman sekamarnya sendiri. Gila, edan benar haha.

Asrama 3

Sama kejadiannya waktu di kelas, teman saya mengajak berbicara pake Bahasa Indonesia. Picik benar tuh jasus,, memancing kita untuk berbahasa Indonesia, terus kitanya dicatet deh. Lalu terjadilah aksi balas membalas, dendam kesumat, dendam jumat kliwon dan pertumpahan darah (nyamuk). Yang paling unuk adalah ketika saya sedang jadi jasus, dan mencatat teman saya bernama Syamsinar. Syamsinar ini orangnya unik banget, cerewet dan gokil. Siang itu, di kelas, dia ga berbahasa dan saya mencatat namanya.Di ruang kismu lugha, yang sialnya saya kembali melanggar dan masuk mahkamah, Syamsinar ditertawai habis-habisan oleh kakak kelas. Begini kira-kira catatannya ketika jadi jasus.

Nama : Syamsinar

Kelas :  1B

Pembicaraan : Hush hush pergiko, mauko juga belajar kah?

Teman bicara : Bebek.

Saksi : (saya udah lupa yang jadi saksinya siapa)

Saya yang saat itu juga dihakimi, hanya bisa tersenyum dalam tundukku. Nah kalau-kalau Syamsinar  bakal ataupun sudah baca tulisan ini, Saya Nurul Fajriyah mohon maaf yang sebesar-besarnya ya. Kamu maklumlah dulu kita sesama junior saling membantai satu sama lain ahahahaha.

Nah. Yang ini suasana ruang makan alias dapur alias kitchen alias matbah 🙂

Gambar di atas adalah kegiatan makan-memakan di matbah (dapur). Ada bagian dapur dimana para cook (Ibu Dapur) memasak menu-menu istimewa :). Jadi kita tuh santri UM pergi makan harus bawa ompreng loh. Lu tau kan ompreng wujudnya gimana. So, itu udah resmi jadi properti kita kalau mau tetap hidup di sana haha. Yang paling berkesan waktu jadi santri baru dulu adalah menu pagi yaitu oseng-oseng. Wah asli, oseng-oseng murni tanpa pemanis buatan. Tapi karena angkatan saya adalah angkatan yang paling amazing, jadi gada yang salah tuh mengenai menu. Bahkan, kami sangat menikmati masa-masa itu.

Selanjutnya mari kita berbagi kenangan dalam gambar yang akan membangkitkan kerinduan akan ma’had tercinta 🙂 Check this one out !

Ciye yang jadi artis di muhadarah akbar (sepertinya)

Ini sudah mulai jaman-jaman modern (sepertinya)

(sepertinya) kita kembali ke masa-masa itu 🙂

NAH !

Tiada Waktu Tanpa Olahraga ;p

Ini Di-setting. Trust Me 🙂

Upacara Antah Berantah

Kalau luang, jolok mangga, nge-rujak cuy. Slrruuppp

Rehat Sejenak Di Mama Cafe

Bagi yang suka dengan cemilan manis-manis, boleh berkunjung ke mama cafe toko kue dan  es krim yang terletak di Jl Serui. Saya udah lupa kapan tepatnya saya mengunjungi kafe itu. Yang pasti, malam hari saat cuaca agak mendung. Bersama seorang teman cewek @QeeShera kami menyempatkan diri untuk rehat sejenak.

Gak banyak yangs aya tahu tentang cafe itu. Tapi udah tersebar gosip kalau kue-kue khas Makassar lengkap di sana, selain itu ada pilihan ice cream yang yummy. Well, setibanya di sana, saya langsung memesan satu es krim vanilla dalam mangkuk (kalau cone kayaknya gak puas) plus pisang peppe khas Makassar. Temanku sendiri memesan es krim vanilla dengan campuran cokelat plus kopi hitam dan kue palita.

Menu yang tersedia di mama cafe bisa dibilang lengkap. Selain varian kue tradisional dan es krim, ada juga makanan berat bagi yang kelaperan tingkat dewa. Overall, kue-kuenya emang menarik perhatian banget. Jadi, bisa jadi spot hang out pecinta kuliner. Meski saya gak sempat mencoba banyak menu, saya yakin rasanya enak-enak.

Es krim kami pun dibawakan waitres. Rasanya sih kayak es krim vanilla kebanyakan. Dari dulu vanilla emang selalu jadi andalan saya. Meski waitres menawarkan es krim andalan, choco oreo apaa gitu. Wah, rasanya pas banget, malam hari dingin makan pisang peppe. Sambelnya juga cukup pedas. Sambil makan, saya juga icip-icip kue palita yang dipesan teman. Hmm, sebenarnya gak terlalu suka sih sama kue yang manis banget. Menurutku, palita sejenis dengan cucuru bayao (asli manisnya kelewatan).

Pengunjung pada intinya didominasi remaja dan ibu-ibu. Tapi gak menutup kemungkinan bapak-bapak juga sering datang. Saat di sana saja, udah ada segerombolan ibu-ibu arisan yang sedang rapat dan makan. Well, pisang peppe yang saya pesan top markotop deh. Sambelnya itu loh, pedas di malam yang agak dingin 🙂

A Part Time Friend

Remember when we first met.
You and I were both immature.
You grab my hand, hold it tight.
You said we should keep sticking each other.

Remember that cruel senior when we first met.
Bullying us till drop.
Thats when you see me and wipe my tears.
The next day, I am getting used to do the same thing for you.

Remember the view next days.
Its been weeks, months,years.
So long until we got senior spot.
Now, we got our own priority.

You choose your comfortable way,
And I choose my freak world, spinning around me till I got twisted.
We both living it happily.
Untill the time had us back to the old day.

But this time is different.
You acted like “up To You, Its Your Way,Go Ahead, I Won’t Mind”.
Thats so weird of you.
You don’t seem my “old best friend”.
You choose your own path without involving me anymore.
Thought you’d better off without me.
You got another “best “fake” friend”.
Thats what you always like to do.
Yeah, you love doing a very simple things.

Now, i realized.
We got our own way, choosing a different path again.
You, sometimes forgot to remind me.
And, I, Intentionally, forgot to remind you.
But glad we’re apart sometimes.
It taught me alotta things.
Living my own “gifted” life alone.
Alone without a back stabber with angle faces.

Lately, I’d love to call you “a back stabber”.
Well, sometimes I wish to have plenty od chance to stab you in the back too.
In case you never knew, I stabbed you in the front, several times.LOL.
Now, the whole memories has show me the truth.
That You are the truly back stabber.
DEAR MY FAKE FRIEND.
CONGRATULATION ON HAVING A NEW JOB.
AS A PART TIME FRIEND.

Wrote by  @nurulistis
nb : untuk teman paruh waktu yang kadang menyesatkanku di berbagai kesempatan. xoxo

Ideologi Dalam Nama

Sebuah nama, sebuah aliran.

Sebuah nama, sebuah ideologi.

Dalam sebuah nama, ada makna.

Apapun namanya nama, Nurul Fajriyah adalah kepunyaanku. Lol

Tak tahu kenapa, hanya ingin mem-posting bahwa saya adalah seorang wanita yang mencoba menganut suatu aliran atau ideologi atau apalah. Namanya Nurulisme. Ya, mungkin nama akun twitter @nurulistis terdengar aneh, alay, lebay atau apalah namanya. Jujur, awalnya saya mau membuat akun twitter @nurulisme atas dasar sebuah nama sebuah aliran. Tapi you know, jejaring sosial itu resek, gak memenuhi permintaanku.

Intinya, namaku Nurul Fajriyah (Alhamdulillah) bermakna cahaya fajar. Kedengarannya bak orang suci yang selalu terdepan. The dawn, fajar, menandakan awal dari segala awal 😉

Bagi kedua orang tuaku, harapan dalam nama tentu saja terselip.Selain mengandung filosofi, yakni kelahiranku di saat terbitnya fajar, aku juga menjadi termotivasi untuk selalu siaga di kala fajar. Oh No. Kedengarannya sangat rumit.

“Pokoknya, bagaimana anak ini nanti bisa sigap bak fajar yang menyingkap kegelapan,” itu asumsiku, mengenai apa yang mendasari orang tuaku memberi nama itu. Bagiku, dan bagi semua orang, ya nama itu lumayan klasik. Mengingat ada ribuan bahkan mungkin jutaan manusia bernama Nurul, atau sekadar Nur di awalan namanya. Tapi tak apa. Saya cukup bangga.

Tapi pada kenyataannya, saya ternyata punya nama sebelum Nurul Fajriyah.

Fatiyah Wahyuni.Cukup manis, pikirku.  Jika nama itu tetap milikku, mungkin sekarang panggilanku adalah Tia, atau Yuni. Dulu, memang aku dipanggil Yuni. Hmm, sangat manis, semanis Yuni Sarah LOL.

Entah mengapa, kemudian bertransformasi menjadi Nurul. Tak apa. Aku senang. Toh, nama juga merupakan identitas. Dari nama yang kearab-araban, aku bangga dilihat sebagai seorang muslim. InsyaAllah nama anakku bakal lebih indah dan ada unsur Arabnya (amin).

Lanjut ke masalah ideologi. Namaku, adalah ideologi yang kupegang. Dari maknanya, identitasnya dan penyebutannya. Filosofi sebuah nama yang membuat pemiliknya, mudah-mudahan termotivasi. Terus termotivasi. Meski, jujur. Agak sulit bagi seorang labil seperti aku ini. *sigh*

At least, kita mau mencoba. Setiap hari, berlatih untuk mendekati target.

Target ideologi. Dimana nanti, Insyaallah aku akan dikenal sebagai seorang wanita idealis karena memegang teguh ideologinya. Btw, saya googling dan menemukan banyak result bernama Cahaya Fajar. Entah itu blog, facebook dan semacamnya. But I dont really care. Toh, makna namaku memang itu kok. Mari saling menyemangati. Fastabiqul Khaerat ya. Ayo cahaya fajar yang lain serukan AMIN.

If Eye Could Speak

Judul postingan terinspirasi dari judul lagu Devon Werkheiser. Lagu itu pertama kali dikenalkan seorang teman, bernama Ayu Anugrah. Saya kebetulan utak-atik playlist hp nya. Well, jujur, secara keseluruhan, musiknya kurang sreg di telingaku. Mungkin karena faktor telingaku adalah telinga alien hehe. Tapi jangan salah, liriknya cukup memukau diriku. Check this one out!

If eyes could speak
One look would say everything
About the way you smile
The way you laugh, the way you dress
The way your beauty leaves me breathless

If eyes could speak
I wouldn’t have to talk

Coba banyangin kalau mata betul-betul bisa ngomong. Lewat visualisasi, semuanya bakal terungkap. Tentu saja di sini kita bakal bahas dengan unsur merah jambu alias cinta. Mata. Layaknya simbol ketika orang jatuh hati, dari mata jatuh ke hati. Begitu katanya. Mata, panca indera yang cukup jujur melalui apa yang ditangkapnya. Meng-captured pemandangan luar yang tampak dari seseorang.

Seseorang. Yah, seseorang. Oh, kata-kata seseorang mungkin  bisa membuatku galau setengah matang. Dari tatapan mautnya. Dia seakan bicara.Membalas haus rinduku yang lama tak terobati. Satu rangkuman yang keluar dari mulutku sejak malam pertemuan mata kita saat itu. (Tidak saling menyapa. mata menyimpan rasa). Which means, our eyes has something to say. So, what would it be, IF EYE COULD SPEAK ?

Tak perlu dijawab. Semua tahu jawabannya. Tak ada yang berharap itu bakal jadi nyata. Bayangkan saja, jika itu terjadi, akan ada banyak ketimpangan yang terjadi terkait rasa. Yang menjadi topik utamanya adalah, sebut saja, manusia hanya suka berandai-andai. Mengandaikan, mata yang bisa membahasakan rasa. Terlalu mendayu-dayu. Gejolak dan hasrat yang besar, seakan berharap dia tahu akan perasaan merah jambu dalam palung hati. Namun, di sisi lain, hati ada hakikatnya tak berkehendak semua itu menjadi nyata. Its better off this way.Hah

Jadi, marilah kita saling sapa lewat mata. Biarlah mata selamanya  menyimpan rasa. Toh, rasa silih berganti seiring bergantinya visualisasi sebuah objek. Objek bernyawa. Yang selalu indah dengan unsur hati. Oh hati. Sudahlah 😉

Here She Comes

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu Alaikum Wr Wb

Glad to know that I totally move on from blogspot to wordpress. Actually, I,my self, sometimes feel sick when I have to staring and stick to the old template of mine. See? That one is so childish. FYI, I am a woman now,lol. Well, lets just cut it out and begin this crap,hmppf.

Here I come. My complete name is Nurul Fajriyah Hading. I was born in the heart of Ujung Pandang, 14 April 1990. When I was young, I used to live my life in ordinary way, half bitterness, half sweet . Got a huge and lovely family, even thou’ I describes “lovely” in a very different way. Just in case, if you guys curious about the writer too, lemme tell ya about me personally. I worked in one of  local media in Makassar. Maybe my writing looked amatir lol. But I’ll try to make it look better day by day. Amin.

Firstly, lemme tell you an interesting story about me. Well, someday, if I get married and got my own kids, this would be a very nice lullaby. Actually, I am expecting that part. When I wrote something, just to show my lovely kids how wonderfull this life would be. Lol, this sounds ridiculous, but trust me, I got a vision, I believe my life is on purpose. I’m, as a writer, not fooling you guys. This is the truth. Even when I wrote it in an abstrack words. I’m sure,for those who understand much about life, will got it right eventually. Finally, I’m here by to presenting my huge story called “gifted life”.

A LULLABY TO RISE AND SHINE
Why do I pick that tittle? Lemme explain. Lullaby used to told before sleep, so my story would be nice to tell in the night before off to bed. Its kinda bed time story. Then, when the lullaby was told, people would understand the meaning of mine or others then re-think. So that re-think will motivate you to do better and better for the next day. For the example, you read the lullaby tonite, then tomorrow you’ll be and feel better. So its like a vitamin, spirit, new perspective and such thing,lol. Actually, my second blog named A Lullaby To Rise And Shine. Its an ideology for me. Well, this time. I’d like to transform into a mature one. InsyaAllah. Sometimes, in the night, I keep on thinking about someone who thinking about me? Did they know that I’m curious about ’em too? What if they knew? What would happen then? Well, guess we’re all gonna say, its such a mistery. So, lets jus post my old writing and wait what would happen next?

Wallahu Alam Bissawab.

Nun, Walqalami wa maa yasturuun. Wassalamu Alaikum WrWb.